Rabu, 06 Maret 2013

TERUMBU KARANG

Tipe- Tipe Terumbu Karang Berdasarkan Bentuknya
Terumbu karang umunya dikelompokkan ke dalam empat bentuk, yaitu :

1.         Terumbu karang tepi (fringing reefs)
Terumbu karang tepi atau karang penerus berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Contoh: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).
2.         Terumbu karang penghalang (barrier reefs)
Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, sekitar 0.52 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Contoh: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah).
3.         Terumbu karang cincin (atolls)
Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulaupulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan.
4.         Terumbu karang datar/Gosong terumbu (patch reefs)
Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal. Contoh: Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Ujung Batu.
Contoh Terumbu Karang
1. Acropora cervicornis
Kingdom               : Animalia
Phylum                  : Cnidaria
Class                       : Anthozoa
Ordo                       : Scleractinia
Family                   : Acroporidae
Genus                     : Acropora
Spesies                  : Acropora cervicornis

Acropora cervicornis
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri             : Koloni dapat terhampar sampai beberapa meter, Koloni arborescens, tersusun             dari cabang-cabang yang silindris. Koralit berbentuk pipa. Aksial koralit dapat dibedakan.
Warna                   : Coklat muda.
Kemiripan           : A. prolifera, A. formosa.
Distribusi            : Perairan Indonesia, Jamaika, dan Kep. Cayman..
Habitat               : Lereng karang bagian tengah dan atas, juga perairan lagun yang jernih.
2. Acropora acuminata
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                 : Scleractinia
Family             : Acroporidae
Genus               : Acropora
Spesies             : Acropora acuminata
Acropora acuminata
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri              : Koloni bercabang. Ujung cabangnya lancip. Koralit mempunyai 2 ukuran.
Warna                 : Biru muda atau coklat.
Kemiripan        : A. hoeksemai, A abrotanoides.
Distribusi          : Perairan Indonesia, Solomon, Australia, Papua New Guinea dan Philipina.
Habitat              : Pada bagian atas atau bawah lereng karang yang jernih atau pun keruh.
3. Acropora micropthalma
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                   : Anthozoa
Ordo                   : Scleractinia
Family               : Acroporidae
Genus                 : Acropora
Spesies              : Acropora micropthalma

Acropora micropthalma
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri              : Koloni bisa mencapai 2 meter luasnya dan hanya terdiri dari satu spesies. Radial koralit kecil, berjumlah banyak dan ukurannya sama.
Warna                 : Abu-abu muda, kadang coklat muda atau krem.
Kemiripan        : A. copiosa, A. Parilis, A. Horrida, A. Vaughani, dan A. exquisita.
Distribusi          : Perairan Indonesia, Solomon, Australia, Papua New Guinea.
Habitat              : Reef slope bagian atas, perairan keruh dan lagun berpasir.
4. Acropora millepora
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family              : Acroporidae
Genus               : Acropora
Spesies             : Acropora millepora
Acropora millepora
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri             : Koloni berupa korimbosa berbentuk bantalan dengan cabang pendek yang seragam. Aksial koralit terpisah. Radial koralit tersusun rapat.
Warna                : Umumnya berwarna hijau, orange, merah muda, dan biru.
Kemiripan        : Sepintas karang ini mirip dengan A. convexa, A. prostrata, A. aspera dan A. pulchra.
Distribusi          : Tersebar dari Perairan Indonesia, Philipina dan Australia.
Habitat               : Karang ini umumnya banyak hidup di perairan yang dangkal.
5. Acropora palmate
Kingdom          : Animalia
Phylum            : Cnidaria
Class                 : Anthozoa
Ordo                 : Scleractinia
Family              : Acroporidae
Genus               : Acropora
Spesies             : Acropora palmate

Acropora palmatae
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 5-20 meter.
Ciri-ciri : Koloni berbentuk cabang besar menyerupai tanduk rusa.
Warna                 : Umumnya berwarna coklat muda sampai coklat kekuningan.
Distribusi          : Tersebar di Perairan Indonesia, Karibia, dan Bahama.
Habitat               : Karang ini umumnya banyak hidup di perairan dangkal.
6. Acropora hyacinthus
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family              : Acroporidae
Genus                : Acropora
Spesies              : Acropora hyacinthus

Acropora hyacinthus
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 15-35 meter.
Ciri-ciri              : Koloni berbentuk datar tipis dan struktur halus di permukaan.
Warna                 : Coklat, hijau, merah muda.
Distribusi          : Perairan Indonesia, Indo-Pasifik.
Habitat               : Umumnya di lereng karang.
7. Acropora echinata
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family              : Acroporidae
Genus               : Acropora
Spesies             : Acropora echinata
Acropora echinata
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri              : Koloni berbentik tabung bercabang yang menyerupai tentakel.
Warna                 : Coklat, kuning, putih.
Distribusi          : Indo-Pasifik barat.
Habitat               : Perairan dangkal yang hangat.
8. Acropora humilis
Kingdom          : Animalia
Phylum            : Cnidaria
Class                 : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family              : Acroporidae
Genus               : Acropora
Spesies             : Acropora humilis
Acropora humilis
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri              : Koloni berbentuk jari-jari pipih bercabang.
Warna                 : Ungu, merah muda.
Distribusi          : Perairan Indonesia, Indo-Pasifik.
Habitat               : Perairan dangkal, ada juga di lereng karang.
9. Acropora cytherea
Kingdom          : Animalia
Phylum            : Cnidaria
Class                 : Anthozoa
Ordo                 : Scleractinia
Family              : Acroporidae
Genus               : Acropora
Spesies             : Acropora cytherea

Acropora cytherea
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri              : Koloni berbentuk meja datar dengan struktur yang padat halus.
Warna                 : Krem, coklat, biru.
Distribusi          : Indo-Pasifik barat.
Habitat               : Perairan tenang, atas dan bawah lereng karang.
10. Siderastrea sidereal
Kingdom          : Animalia
Phylum             : Cnidaria
Class                  : Anthozoa
Ordo                  : Scleractinia
Family              : Siderastreidae
Genus                : Siderastrea
Spesies              : Siderastrea sidereal
Siderastrea sidereal
Kedalaman       : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 7-14 meter.
Ciri-ciri              : Koloni berbentuk batu bulat besar.
Warna                 : Coklat keemasan, abu-abu.
Distribusi          : Perairan Indonesia, Karibia.
Habitat               : Perairan dangkal yang jernih.

Minggu, 03 Maret 2013

Dongeng Daerah Keong Emas, Jawa Tengah

Alkisah hiduplah seorang wanita bernama Dewi Limaran, istri dari Raden Putra. Hidupnya begitu bahagia bersama suaminya di istana.

Walaupun Raden Putra mempekerjakan beberapa pelayan untuk dirinya, Dewi Limaran terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri. Ia mahir memasak, membersihkan kamar, dan lain-lain.
Selain itu, Dewi Limaran juga gemar berkebun. Dia telah menanam beberapa bunga dan tanaman obat di taman istana.
Raden Putra sangat menyayangi istrinya. Terkadang ia ikut membantu sang istri berkebun. Bahkan kebun itu tampak lebih rapi dan terawat dari pada kebun yang ada di istana raja yang diolah oleh beberapa tukang kebun raja.
Suatu hari, ada utusan raja yang datang ke istana Raden Putra. Dia membawa titah sang raja bahwa Raden Putra harus berangkat membawa pasukannya ke perbatasan karena telah terjadi bentrokan memperebutkan hasil hutan.
Sebagai prajurit tangguh, Raden Putra langsung menyiapkan pasukannya dan segera berangkat ke perbatasan. Sebelum berangkat, tak lupa Raden Putra berpesan kepada istrinya untuk berhati-hati dan menjaga kebun mereka.
Beberapa hari telah berlalu, Raden Putra belum juga kembali dari perbatasan. Namun, Dewi Limaran cukup tenang dan yakin suaminya akan segera kembali. Dia masih tetap merawat kebun bunganya di belakang istana.
Saat ia sedang berjalan-jalan di taman, ia menemukan sebuah keong di salah satu bunga dan kemudian melemparnya. Keong itu ternyata adalah seorang penyihir jahat yang sedang menyamar dan memata-matai tindak tanduk Raden Putra.

Ketika cangkangnya terlepas, keong itu pun berubah wujud ke asalnya. Dewi Limaran tampak kaget melihat hal ini. Sebelum Dewi Limaran sempat berteriak memanggil pelayannya, sang penyihir telah lebih dulu mengucapkan matranya, dan mengubahnya menjadi keong emas.

Kejadian hilangnya Dewi Limaran membuat gempar kerajaan. Raden Putra yang baru kembali dari perbatasan setelah menyelesaikan tugas tampak kalut dan bersedih. Ia benar-benar tak menyangka akan mendapati istri tercintanya menghilang dari istana.



Raden Putra lalu mengirimkan mata-mata ke seluruh penjuru kerajaan. Segala cara ia lakukan. Namun, Dewi Limaran tidak juga ditemukan.
Raden Putra tidak lagi mengurus tamannya, tapi dia dengan sejumlah kecil pasukannya berkelana berkeliling negeri untuk mencari istrinya yang hilang. Taman yang indah tersebut kini hanya diurus oleh beberapa pelayan Raden Putra.

Pada suatu hari, di desa di dekat istana Raden Putra, seorang nenek memancing di suatu sungai. Saat ia pulang, ia menemukan sebuah keong berwarna emas di antara tangkapannya. Ini adalah hal aneh. Karena tidak pernah ia mendapati seekor pun keong dalam jaringnya, apalagi yang berwarna emas.

Sang nenek pun dengan senang hati membawa keong emas itu pulang. Sesampainya di rumah diletakkannya keong tersebut di dalam baskom berisi air.
Keesokan harinya nenek tadi kembali berangkat ke sungai untuk mencari ikan guna dijualnya di pasar dan makannya sehari-hari.
Namun alangkah terkejutnya ia ketika pulang ke rumah. Ia mendapati rumahnya telah dibersihkan. Si nenek tak habis pikir. Bagaimana rumahnya bisa jadi sebersih ini? Padahal tadi pagi ia pergi terburu-buru ke sungai. Ia tak sempat membereskan rumahnya karena bangun kesiangan.

Karena rasa ingin tahunya, keesokan harinya, ia pura-pura pergi ke luar. Namun, baru beberapa langkah, ia kemudian berbalik dan mengintip ke arah rumahnya.
Alangkah terkejutnya sang Nenek. Ia melihat seorang anak perempuan cantik sedang membersihkan rumahnya. Sang nenek pun mendekati anak perempuan itu. Ia begitu penasaran untuk mengetahui siapa sebenarnya anak perempuan yang telah berbaik hati membersihkan rumahnya.

Anak perempuan yang ternyata adalah Dewi Limaran itu pun menceritakan apa yang dialaminya. Ketika mendengar cerita Dewi Limaran, maka dibantinglah keong emas itu ke tanah. Maka, musnahlah kutukan yang diterima oleh Dewi Limaran.

Sang Nenek kemudian mengantar Dewi Limaran kembali ke istana. Para pengawal dan pelayan istana Raden Putra kaget mendapati Dewi Limaran telah kembali. Beberapa pengawal pun dikirim untuk mencari keberadaan Raden Putra.

Beberapa hari kemudian, Raden Putra kembali ke istananya dan bersatu kembali dengan istrinya. Mereka pun hidup bahagia dan taman mereka pun bersemi kembali dengan bunga yang indah dan berwarna-warni.
Kisah Cinde Laras (Cerita Rakyat dari Jawa Timur)

Dahulu kala ada sebuah kerajaan bernama Kediri di Jawa Timur. Kerajaan itu dipimpin oleh raja bernama Raden Putra. Raden Putra kaya raya dan berkuasa. Kegemarannya menyabung ayam.
Raden Putra memiliki permaisuri dan beberapa orang selir. Seorang selirnya ingin merebut kedudukan permaisuri. Ia memfitnah permaisuri dan mengatakan bahwa permaisuri menaruh racun pada makanan raja. Sang raja murka. Tanpa berpikir panjang dan memeriksa kebenaran berita itu, ia memerintahkan prajurit untuk membawa permaisuri ke hutan dan membunuhnya.

Para prajurit membawa permaisuri ke hutan, namun mereka tidak sampai hati membunuh permaisuri yang baik hati dan bijaksana. Apalagi ia sudah mengandung. Mereka dengan berat hati meninggalkan permaisuri di hutan. Mereka menangkap seekor rusa dan membawa jantungnya kepada raja sebagai bukti bahwa mereka telah membunuh permaisuri.

Beberapa bulan kemudian permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan dan sehat. Bayi itu diberi nama Cinde Laras.

Cinde Laras tumbuh menjadi anak yang kuat dan cerdas. Ia suka bermain di hutan. Pada suatu hari ia menemukan sebutir telur ayam. Cinde Laras membawa telur itu pulang dan merawatnya hingga menetaskan seekor anak ayam jantan. Anak ayam itu dengan cepat tumbuh menjadi besar.

Seperti ayahnya, Cindelaras suka menyabung ayam. Ia pergi ke desa-desa tetangga untuk menyabung ayam. Ayam jagonya sangat kuat dan selalu menang melawan ayam-ayam jago lain. Cindelaras menjadi terkenal. Semua orang mendengar cerita tentang anak laki-laki itu dan ayam jagonya.

Sang raja juga mendengar berita tentang ayam jago yang tak terkalajkan dan pemiliknya yang masih bocah. Raja mengundang Cinde Laras ke istana untuk melihat ayam jago terkenal itu bertarung.
Ketika Cinde Laras datang di istana, raja terkesiap. “Katanya anak ini  tinggal di hutan, namun tindak tanduknya seperti anak bangsawan,” pikirnya.

Raja mengajak Cinde Laras mengadu ayam. Cinde Laras mengajukan syarat, bila ia memenangkan pertandingan itu, raja harus merelakan setengah kerajaan untuk diberikan kepadanya. Raja langsung setuju. Ayam-ayam jagonya semua ayam pilihan dan dirawat dengan sangat baik. Tak mungkin ayam jago Cinde Laras bisa menang.

Raja memilih ayamnya yang terbaik untuk melawan ayam Cinde Laras, namun dengan mudah dikalahkan. Semua orang terkejut. Mereka lebih heran lagi ketika ayam Cinde Laras berkokok.

Bunyinya, “Kukuruuyuuuk...! Akulah ayam jago Cindelaras, yang hidup di hutan, tapi ia anak Raden Putra!”

Ayam itu berkokok lantang berulang-ulang. Raja sangat terkejut. Ia kemudian memanggil Cindelaras mendekat.

"Siapa namamu? Di mana rumahmu?” tanya raja.

“Nama saya Cinde Laras, yang mulia. Saya tinggal bersama ibu di hutan"

“Siapa nama ibumu?”

Cinde Laras menyebutkan nama ibunya dan raja terperanjat.

"Apakah benar ia anakku?" tanyanya dalam hati.

Raja memerintahkan prajurit untuk mengawalnya dan Cinde Laras ke rumahnya di hutan.
Di sana raja melihat seorang wanita dan langsung mengenalinya sebagai permaisuri yang dulu hendak dibunuhnya. Permaisuri menceritakan bahwa ia difitnah dan ia melahirkan Cinde Laras.

Raja sangat menyesal karena ia dulu terburu nafsu. Ia mengajak permaisuri dan Cinde Laras kembali ke istana.

Raja mengukuhkan kembali kedudukan permaisuri dan menghukum selir yang jahat itu. Setelah raja meninggal, Cinde Laras menggantikannya menjadi raja. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana.